Film
ini merupakan film yang bagus dan cocok di tonton khususnya bagi mahasiswa jurusan
ilmu komunikasi. Saya menyatakan ini karena film ini menceritakan tentang media
dan tentu saja seputar jurnalistik, mulai dari reporter, presenter, kameramen
dan medianya yang sangat sesuai dengan mata kuliah dalam jurusan ilmu
komunikasi.
Dengan
menonton film ini kita sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi akan lebih
memahami lagi bagaimana kuatnya media dalam membentuk opini publik, yang mana
opini tersebut dibentuk sesuai dengan keinginan pemilik media. Masyarakat pun
tidak dan sulit menyadari adanya pembentukan opini publik yang dilakukan oleh
media. Film ini benar-benar dapat menguras emosi penontonya.
Dalam
film ini pun kita dapat melihat bagaimana pelanggaran-pelanggaran hukum etika
pers yang telah dilakukan media. Yang pada akhirnya pelanggaran-pelanggaran ini
berujung pada tertekannya objek pemberitaan, yang difilm ini berperan sebagai
Sam, yang akhirnya dia bunuh diri tapi tentu saja jelas dia tewas bukan karena
dirinya sendiri tapi dia tewas akibat tekanan yang diberikan oleh media
terhadapnya.
Adapun
pelanggaran-pelanggaran hukum etika pers yang dilakukan media dalam film ini
antara lain:
- Pelanggaran ketika reporter masih saja bertanya pada orang yang sedang sekarat, ini adegan filmnya saat security museum tidak sengaja tertembak oleh Sam.
- Pelanggaran ketika media atau wartawan, menganggu security yang tertembak tadi saat ia sedang dirawat di rumah sakit dengan, masuk lewat jendela ini sangat melanggar hak privasi seseorang.
- Saat keluguan Sam dimanfaatkan Max untuk menjadi sumber beritanya, guna kepentingan pribadi reporter yaitu Max dan juga untuk keoentingan medianya. Rayuannya adalah pemberitaan di media tampat ia bekerja bisa meringankan hukuman, setidaknya informasi kejadian sesungguhnya kepada calon juri di pengadilan kelak.
- Ketika media mewawancarai seseorang yang mengaku-ngaku sebagai teman Sam, harusnya dia mengecek dulu informannya apakah dia itu benar-benar teman dari Sam. Sehingga nantinya tidak ada laporan atau pernyataan palsu yang disampaikan
Film ini
banyak memberikan pelajaran bagi kita untuk menjadi seorang jurnalis, kita
harus memilih apakah akan jadi jurnalis dengan rasa kemanusiaan dan hati nurani
atau mengorbankan objek pemberitaan untuk kepentingan pribadi dan pemilik media.
Karena dengan pekerjaanya sebagai jurnalis dia bisa membuat terbunuhnya
karakter subjek berita, karena hal itu akan mebuat beritanya lebih menarik dan
dikonsumsi orang banyak. Semakin banyak yang mengkonsumsi berita tersebut, sang
jurnalis dihargai dan dianugerahi materi yang lebih, meski harus mengorbankan
subjek berita.








0 komentar:
Posting Komentar